pernah…

pernah saat bumi tidak memintaku untuk membelikannya masker penutup hidung,karena tak sanggup menghirup udara yang kini semakin aneh, bahkan bumi pun pernah memintaku untuk membawakannya masker penutup muka, entah utnuk apa, mungkin ia malu…

pernah saat matahari tidak memintaku untuk membawakannya es berjumlah 365 buah, karena ia pun tak tahan dengan panas tubuhnya yang semakin menyengat setiap hari…

pernah saat neptunus tidak menyuruhku untuk membawakan trisula pembangkit ombak, karena ia kini tak tahan dengan ikan dan burung laut yang berteriak-teriak memohon, “singkirkan minyak ini…”

pernah saat padmani tidak membuatku gusar dengan ucapan-ucapannya, dan memberiku senyuman pengantar tidur paling mujarab, karena ia kini tak tahan dengan pasir yang semakin panas tak mengalir dalam sebuah jam pasir…

apa kau pernah? tidak.

Advertisements
Published in: on July 9, 2009 at 8:43 am  Leave a Comment  

subuhpadaembun

lepas malam buta. menjelang komposisi sahutan terdengar membangunkan jiwa yang tertidur.subuh tersenyum pada embun.

subuh: manusia hampir memanggil, embun apa kau disana?

embun:iya, aku disini, tapi tak akan lama, matahari akan menggelapi dunia…

subuh:ya, dunia gelap karena matahari kini, yang tergelapi hanya aku, embun bersahabtlah dengan bulan yang lembut, tidak menyengat, tidak pula mendidihkan ubun-ubun…

subuh tersenyum pada embun.

embun berangsur tertiup angin. membalas senyum dari kejauhan..

cukup itu subuh pada embun.

Published in: on June 27, 2009 at 7:11 pm  Leave a Comment